Kamis, 21 Mei 2009

makanan yang bergizi

Makanan Bergizi, Makanan Sehat ...

Acara makan siang biasanya jadi acara refreshing sekaligus isi `bahan bakar`. Sayangnya, setelah sekian tahun mencicipi aneka masakan di seputar Sudirman, kebosanan menjadi masalah besar. (Aduh, kami ini memang tidak bersyukur, maafkan aku Tuhan, karena telah menyebut kata bosan, padahal ada orang lain, jangankan untuk memilih mendapatkan sekedar makanan untuk pengisi perut saja susah...)

Tapi terlepas dari masalah bosan, tadi siang tiba-tiba menjadi acara makan siang paling membingungkan. Berdiri di depan ibu kantin sambil menunjuk sayur lodeh, saya langsung mendaulat ikan goreng sebagai pedamping utama menu andalan hari ini. Tapi belum juga tangan Si Ibu menyodorkan ikan goreng favorit, artikel di KCM tadi pagi `Kami Terpaksa Menggunakan Formalin..` http://www.kompas.com/kesehatan/news/0512/29/072208.htm membuat saya langsung berubah pikiran. Selamat tinggal ikan kaya gizi, rendah kolestrol dan mengandung omega 3 kecintaan saya..

Sebelumnya saya sudah cukup pusing harus menyingkirkan tahu dalam daftar menu gara-gara informasi tahu mengandung formalin. Hari ini mencermati pergerakan BB-POM, sederet makanan favorit terindikasi mengandung formalin. Dimulai dari tahu, ikan segar, ikan asin, mie,dan baru saja saya baca di detik, petis pun mengandung formalin!

Makin susah saja memilih makanan sehat dan bergizi. Satu demi satu makanan bergizi berubah menjadi petaka gara-gara zat kimia pengawet, pewarna, pencerah...

Salah siapa?? Ruwet sekali mencari jawabannya. Yang menjadi keheranan paling besar adalah, mengapa sih zat-zat kimia tersebut sangat mudah didapatkan? Harusnya zat-zat kimia yang banyak dipakai untuk kepentingan industri atau medis disalurkan oleh satu badan saja, yang berwenang mengontrol siapa yang berhak menggunakannya. Kalau melihat akibat yang ditimbulkan dari mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin, salah satunya, bukankah sama bahayanya dengan kalau kita mengkonsumsi narkoba misalnya..?

Mungkin dengan pengawasan dan kebijakan penyaluran yang ketat bisa meminimalisir penggunaan zat-zat tersebut yang tidak pada tempatnya (semoga). Wong mereka yang menggunakan tokh sebenarnya sudah tahu bahayanya kok.. Jadi kalau jalur pemberian informasi mengenai bahayanya sudah tidak efektif lagi karena pilihan mereka menggunakan zat tersebut dipicu oleh faktor terjepit, ya.. jalan satu-satunya harus dengan memperketat peredarannya.

Yah, begitulah.... memilih makanan yang bergizi dan sehat..

Senin, 18 Mei 2009

Berita iptek

Misteri Binatang Melata
Mengapa Kaki Cicak Bisa Lengket Di dinding ?

Jika malam hari tiba, terutama di sekitar lampu penerang, biasanya banyak berdatangan cicak atau tokek. Binatang melata ini bisa berjalan lincah tanpa takut jatuh dari dinding atau atap rumah. Kakinya seakan lengket pada dinding. Karena itulah binatang melata ini bisa dengan mudah memangsa serangga yang ikut mampir di sekitar lampu. Kadangkala kita berpikir, “kok cicak dan tokek itu tidak jatuh dari dinding atau atap rumah ya ?”. Ada yang mengira bahwa pada kaki cicak terkandung zat perekat sehingga bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai. Tapi pendapat ini jelas dibantah, sebab pada bekas langkah kaki cicak tidak ditemukan zat-zat seperti itu. Sungguh aneh dan hal ini terus menjadi misteri.

Beberapa waktu yang lalu, rahasia alam ini berhasil diungkapkan oleh kelompok peneliti dari universitas California Barkeley. Dari berbagai data yang berhasil terkumpul, mereka meyakini bahwa kekuatan perekat pada telapak kaki cicak ditimbulkan oleh tenaga van der Waals.

Mereka menemukan adanya sekitar 500 ribu bulu halus yang kuat pada telapak kaki cicak. Bulu halus ini mengandung senyawa keratin yang juga terkandung pada rambut manusia. Bulu halus pada telapak kaki cicak ini panjangnya bervariasi, antara 30 sampai 130 mikrometer. Tebalnya pun hanya sepersepuluh tebal rambut manusia. Yang lebih menakjubkan lagi, ternyata ujung bulu halus ini masih terbagi lagi menjadi beberapa bagian yang berbentuk mirip dengan sendok teh.

Kekuatan pelekat yang ditimbulkan oleh daya van der Waals bulu halus ini sangat menakjubkan. Satu bulu halus tadi bisa memiliki kekuatan pelekat sampai 10 atm. Mereka mengukurnya langsung dengan menggunakan sebuah alat bernama atomic force microscope (AFM).

Menurut peneliti ini, penemuan ini bisa mengilhami pengembangan konsep baru tentang “lem kering”. Bahkan bisa jadi, penemuan ini akan menjadi pintu pembuka bagi pengembangan robot yang bisa berjalan di tembok dinding atau atap rumah mirip cicak.